Karel Teredei pengecer premium.(rey/Telegrafnews.co)

TELEGRAF-  Tingginya tuntutan hidup membuat semua orang harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga. 

Ya, itulah yang dilakukan Karel (49) warga ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud, Melonguane saat ditemui Telegrafnews.co, Selasa (8/11) 2016 pagi di tempatnya menjual premium eceran.

Hal ini terpaksa dilakukan, karena hasil yang diperoleh dari jualan di kiosnya tidak dapat  mencukupi kebutuhan keluarga dan sekolah anaknya.

"Kios ini juga bautang (pinjam) di koperasi, hasilnya juga pas-pasan. Apalagi barang-barang di sini sangat mahal, kalau andalkan hasil dari kios sendiri tidak cukup, jadi ya cari tambahan dengan jual bensin ini," kata lelaki asal Kaluwatu, Sangihe itu.

Dalam dua minggu, dia bisa menjual sedikitnya 200 liter premium seharga Rp10 ribu per liternya. "Dua ratus liter itu harganya satu koma delapan (Rp1,8 juta), jadi kalau habis untungnya sekitar dua ratus (Rp200 ribu). Biar sedikit tapi syukurlah untuk buat tambah-tambah biaya hari-hari dan kuliah anak," urainya.

Lain lagi yang dilakoni, Desima. Untuk menghidupi dirinya dan kedua cucunya, ia terpaksa rela bekerja sebagai penjual premium eceran milik seorang pengecer dan digaji sekira Rp170 ribu sampai Rp200 ribu bila bisa menjual sekira 200 liter.

"Ini bukan oma punya, oma hanya bekerja. Oma digaji seratus tujuh puluh ribu, ada kalanya dua ratus ribu kalau habis," kata lansia berusia 67 tahun itu.

Dalam seminggu dia bisa menjual sekira 200 liter. Namun, katanya, pendapatannya juga tidak tetap, karena terkadang tidak ada stock sehingga dia tidak bisa menjual.

"Kalau tidak ada minyak (bensin), oma di belakang, di kebun, tanam ubi. Hasilnya kadang dijual ke pasar, karena kalau hanya gaji dari jual minyak tidak cukup, apalagi sekarang semua barang mahal," tuturnya. (reynaldus atapunang)

Axact

Axact

Lugas dan Inspiratif

Post A Comment: