Aktivitas petikemas di pelabuhan Bitung.
TELEGRAF- Terkuaaknya dugaan pungutan liar (Pungli) lewat 'bisnis' formulir LAL-3B di pelabuhan petikemas Kota Bitung, cukup membuat panik sejumlah pihak.

Institusi pengelola di area pelabuhan petikemas Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), saling lempar tanggungjawab. Masing-masing mengklaim tak memerintahkan adanya transaksi 'bisnis' jual beli formulir LAL 3B kepada pengusaha ekspedisi.

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia/Indonesian Logistick and Forwarder Associaton (ALFI/ILFA) disebut-sebut sebagai operator tekhnis yang mengeluarkan formulir LAL-3B kepada pengusaha eksepdisi, akhirnya angkat bicara.

Ketua ALFI-ILFA Kota Bitung, Syam Panai membantah adanya bisnis jual beli formulir LAL 3B kepada pengusaha ekspedisi di kawasan Terminal Petikemas Bitung (TPB).

"Itu Fitnah, dan tidak benar," tandas Panai yang juga persondil Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bitung.

Hanya saja, lewat keterangan salah satu pengurus ALFI-ILFA, terungkap kalau dikeluarkannya formulir LAL 3B ke pengusaha eksepdisi, adalah bentuk penyeragaman dalam hal pendataan arus keluar masuk barang sekaligus bentuk tertib administrasi di otoritas pelabuhan yakni Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kota Bitung.

"Itu adalah bentuk penyeragaman. Dan atas perintah salah satu kepala bidang Lalu Lintas Laut (Kabid LALA) di KSOP. Sehingga, formulir LAL 3B diberlakukan ke pengusaha ekspedisi secara seragam," kata wakil Ketua ALFI-ILFA Bitung Gunawan Pontoh.

Masih menurut Gunawan Pontoh, bahwa menyangkut formulir LAL 3B dikeluarkan ALFI-ILFA, itu bukanlah Pungli. Sementara blangko surat jalan, itu murni bisnis antara pemiliki perusahaan ekspedisi dengan orang yang meminjam perusahaan ekspedisi.

BERITA SEBELUMNYA: 

"Soal fomulir LAL 3B itu cuma biaya cetak blangko di percetakan yang harus dibayar oleh pengusaha eksepdisi. Kami kan tidak cetak gratis, satu bundel blangko itu biaya cetaknya Rp35 ribu dan pengusaha yang merupakan anggota ALFI-ILFA membayar seharga Rp50 ribu per bundel formulir," bebernya.

Disentil soal dasar hukum penjualan formulir LAL 3B seperti UU, Keputusan Menteri (Kepmen), Petunjuk Tekhnis (Juknis) atau Petunjuk Lapangan (Juklak) maupun Peraturan Daerah (Perda) yang memayungi tentang 'bisnis amis' transaksi formulir LAL-3B, Gunawan Pontoh tak mampu menunjukan regulasi tersebut.
 
"Yah, itu atas perintah salah satu Kabid di KSOP dan itu bukan Pungli," tegasnya lagi.

Bantahan juga disampaikan Sekretaris ALFI-ILFA Ramlan Ifran. Menurutnya, penjualan formulir LAL 3B itu sudah sesuai aturan. Hanya saat ini, formulir itu sudah dibuat oleh masing-masing Jasa Perusahaan Transportasi (JPT).

"Dan itu berdasarkan rapat pada tanggal 22 November 2016 bersama KSOP. Jadi sebelum kami rapat bersama pada tanggal 22, itu juga sudah sesuai aturan dari KSOP jadi bukan ALFI-ILFA yang buat aturan tersebut. Pemberitaan soal dugaan pungli itu tidak benar," urainya melalui pesan Whats App (WA) ke kru telegrafnews.

Bagaimana Penjelasan KSOP soal bola panas ALFI-ILFA?

Ditemui di kawasan Terminal Petikemas Bitung (TPB), Kepala KSOP kelas I Bitung, Jonggong Sitorus, balik membantah tudingan oknum di ALFI-ILFA, terkait instruksi bawahannya atas kewajiban pembelian formulir LAL 3B ke pengusaha ekspedisi.

Menurutnya, sesuai aturan, bahwa seluruh arus lalu lintas keluar barang oleh EMKL yang kini disebut Jasa Pengusaha Transportasi (JPT) di pelabuhan, wajib melaporkan ke KSOP.

"Oknum ALFI-ILFA siapa yang bilang? trus diperintahnya kapan? kalau Kabid LALA yang sekarang di KSOP itu belum lama menjabat, jadi tidak ada itu," katanya tanpa menyebut aturan seperti apa yang mengatur tentang fomulir LAL 3B.

Pria berdarah Batak ini, mengaku sejak pemberitaan dugaan Pungli ini terkuak, KSOP langsung menggelar rapat mendadak dan meminta keterangan oknum-oknum di ALFI-ILFA soal hal tersebut.

"Awalnya mereka mengelak, namun akhirnya mereka (ALFI-ILFA) mengaku kalau penjualan formulir itu ada. Dan perlembar formulirnya dijual seharga 10 rupiah, tiap blangko berjumlah 100 lembar. Saaat itu, saya bilang tidak boleh lagi sekarang, sebab semuanya sudah transparan, sudah tidak seperti dulu lagi. Karenanya, semua pengurusan arus keluar masuk barang itu, langsung diputuskan untuk diserahkan ke masing-masing pengusaha eksepdisi saat itu juga," terangnya, sembari mengaku kalau dirinya sebagai kepala KSOP tak ingin diatur-atur oleh asosiasi.

Berikut siklus Keluar Masuk Barang di TPB?

Soal itu, General Manager (GM) Terminal Petikemas Bitung (TPB) Edy Markus Nutsewan, menjelaskan, bahwa alur pelayanan jasa delivery atau penyerahan petikemas di TPB berawal dari pengajuan permohonan  delivery container. Dimana pengguna jasa wajib melampirkan delivery Order (DO) yang masih berlaku dari perusahaan pelayaran.

"DO itu wajib untuk pengiriman barang domestik. Untuk yang impor, selain melampirkan DO, juga wajib melampirkan SPPB dari Bea Cukai, " jelas Nutsewan kepada telegrafnews.

Lalu, setelah itu pengguna jasa membawa berkas tersebut ke loket untuk diteliti kelengkapan dokumen, sebelum diterbitkan Proforma perhitungan biaya.

"Proforma ini akan dilunasi oleh pengguna jasa di bank dan setelah itu petugas loket akan menerbitkan Job Slip," ungkapnya lagi.

Setelah pengguna jasa menerima Job Slip, kemudian Job Slip diberikan ke sopir truck, sopir menuju gate in atau pintu masuk. Kemudian petugas gate in menerima Job Slip, lalu memasukan nomor petikemas dan plat nomor (Nomor polisi)  truck.

Setelah melalui pemeriksaan dipintu masuk tadi, sopir lalu menuju ke lokasi container dan menyerahkan Job Slip kepada asisten operator, selanjutnya operator lift on container yang tertera di Job Slip ke truck dan menyerahkan satu copian kepada sopir.

Sebelum sopir menuju pintu keluar (gate out), petugas tally melakukan konfirmasi unstack atau lift on pada HHT. Tetapi di pintu keluar, petugas kembali memastikan kondisi petikemas dalam keadaan baik dan telah sesuai dengan nomor yang tertera di Job Slip sebelum sopir meninggalkan pelabuhan petikemas tersebut. 

Lalu bagaimana dengan keberadaan formulir LAL 3B yang wajib dibeli pengusaha ekspedisi di ALFI-ILFA sejak empat tahun lalu? GM TPB enggan berkomentar.

"Wah itu bukan kewenangan saya, untk menjelaskan," tutup pria familier ini. (redaksi/bersambung)

Axact

Axact

Lugas dan Inspiratif

Post A Comment: