Tabung LPG 3 Kg (ist)
TELEGRAF- Rommy Ngantung, pemilik pangkalan gas elpiji di Kelurahan Pateten Dua, meminta pihak Pertamina dan Agen Elpiji serta pemerintah Kota Bitung dalam hal ini Bagian Perekonomian ataupun Dinas ESDM agar dapat melakukan penertiban kepada penjual elpiji bersubsidi di warung ataupun kios kios yang menjual diatas range harga wajar.

"Mereka tidak dilarang ikut menjual elpiji 3 kg, hanya saja harganya yang pantas,  bukan harga dinaikkan diangka yang tidak masuk akal," jelas Rommy Ngantung pemilik pangkalan di bilangan Pateten Dua saat berbincang dengan Telegrafnews.co, Jumat (3/11) 2016.

Sesuai kesepakatan beberapa waktu lalu, menurut Rommy, tidak ada lagi penyaluran ke warung-warung ataupun kios untuk menghindari harga yang tidak normal tersebut.

"Hal ini sulit kami pangkalan lakukan, karena Pangkalan kesulitan memprediksi mana yang pemilik warung atau kios mana masyarakat biasa," jelasnnya lagi.

Selain warung atau kios, UKM skala menengah besar juga menjadi salah satu penyebab harga elpiji menggila. Rommy memberikan contoh bagaimana UKM yang menggunakan elpiji 3 kg untuk produksi mereka sebanyak 5-10 tabung per hari.

"Saya sudah sering sarankan kepada pemilik UKM yang biasa belanja elpiji disini, untuk menggunakan elpiji 12 kg. Karena itu yang seharusnya untuk mereka,  bukan  subsidi yang peruntukannya untuk kebutuhan rumah tangga," jelasnya lagi sambil melayani pembeli.

Menurut Rommy lagi, buat UKM yang skala kecil tidak masalah menggunakan elpiji 3 Kg,  karena menurutnya produksi mereka skalanya hampir sama dengan pemakaian rumahtangga.

"Buat UKM kecil, seperti penjual nasi kuning,  atau warung makan kecil,  pedagang bakso keliling, bolehlah menggunakan elpiji 3 kg, tapi buat UKM yang jualan gorengan itu saya sarankan menggunakan elpiji 12 kg," jelasnya mengakhiri perbincangan. (arham licin)
Axact

Axact

Lugas dan Inspiratif

Post A Comment: