aktivitas di salah satu tempat layanan BPJS (ist)
TELEGRAF- Menjadi peserta BPJS Kesehatan ternyata tidak membuat para pasien di Kepulauan Talaud mendapat layanan kesehatan yang memuaskan. Pasalnya, saat berobat seperti di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Talaud, mereka kerap diminta membeli obat di apotik di luar rumah sakit.

Kondisi itu seperti dialami Mino, warga Kec. Nanusa, Talaud. Selama beberapa hari ini, Mino harus membeli obat yang diperlukan orang tuanya dengan alasan stok obat di apotik rumah sakit habis.

"Orang tua saya katanya sakit infeksi lambung dan sudah beberapa hari ini dirawat di rumah sakit. Setiap mau ambil obat di situ (apotik rumah sakit), selalu disuruh beli obat diluar karena kosong di situ (apotik rumah sakit)," ujarnya, kepada Telegrafnews.co, Rabu (26/10).

Mino pun harus mengeluarkan biaya lagi untuk menebus obat, meskipun orangtuanya peserta BPJS Kesehatan. Ia mengaku, memang tidak semua resep diminta membeli sendiri di luar. Dari empat jenis obat, sebanyak satu atau dua jenis yang harus dibeli di luar.

Obat yang dibeli diluar seperti obat injeksi Ondansetron 4mg/2ml yang dijual di apotek dengan harga Rp75 ribu untuk 3 botolnya dan Infus Otsu-Salin 3 seharga Rp100 ribu per botol.

"Bahkan, kantong darah pun harus dibeli sendiri," katanya.

Eti, pegawai negeri di Pemkab Talaud, juga keluhkan hal yang sama. Ia mengaku kesal dengan ketersedian obat di RSUD Talaud. Sebab setiap berobat ke rumah sakit itu, selalu saja disuruh membeli obat di luar dengan alasan kehabisan stok.

"Padahal setiap bulan gaji kami selalu dipotong untuk bayar iuran BPJS. Namun saat berobat, justru harus keluarkan uang lagi untuk beli obat yang seharusnya sudah ditanggung oleh BPJS," tuturnya beberapa waktu. (reynaldus atapunang)
Axact

Axact

Lugas dan Inspiratif

Post A Comment: