TELEGRAF-Tepat hari ini, Jum’at 28 Oktober 2016, 88 tahun sudah pemuda Indonesia mendeklarasikan yang namanya Sumpah Pemuda. Sumpah yang berdasarkan satu bangsa, satu bahasa, dan satu persatuan itu dilakukan untuk mengurai permasalahan perpecahan pemuda-pemuda Indonesia.

88 Tahun perjalanan Pemuda Indonesia ini tentu tidaklah mudah, jika dulu problemnya adalah masalah identitas dan kemerdekaan, justru sekarang masalahnya adalah teknologi digital yang harus direspon dengan cepat oleh pemuda.

Sosiolog UGM M Najib Azca mengungkapkan kalau di era ini, teknologi menjadi alternatif kemajuan sebuah Negara, tapi kalau tidak dimanfaatkan dengan baik dan tidak direspon dengan cepat bisa jadi kita hanya menjadi bangsa yang tak memiliki indentitas.

"Realitas saat ini, globalisasi semakin menguat dengan hadirnya teknologi. Orang semakin terkoneksi tapi identitas tidak semakin muncul," ucap M Najib Azca, di Jakarta Kamis (27/10) 2016.

Jadi, pentingnya sebuah identitas pemuda di era globalisasi ini harus disadari oleh bangsa ini. Teknologi yang begitu berkembang pesat bisa jadi akan melemahkan persatuan kita.

"Di sisi yang lain identitas kita yang lokal jangan sampai hilang karena itu bagian kekayaan kita," lanjut Najib.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ketua Bidang Pemuda Garda Rajawali Perindo (Grind), Muh Abduh. Menurutnya, sumpah pemuda kali ini diharapkan bukan hanya menjadi eufhoria Pemuda-Pemudi semata, tapi kita harus melihat ke depan tantangan apa yang akan dihadapi.

“Bahwa Pemuda Indonesia memiliki peran penting dalam kemerdekaan bangsa ini, itu betul. Tapi tantangan terbesar di era teknologi ini adalah teknologi itu sendiri,” jelas Abduh ketika diminta keterangan , Jum’at (28/10) 2016.

Abduh berharap pemuda Indonesia mampu menciptakan inovasi dan menampilkan kreatifitasnya, agar kita bisa bersaing dengan bangsa maju. (amie)
Axact

Axact

Lugas dan Inspiratif

Post A Comment: