Wakil Wali Kota Bitung Maurits Mantiri
 saat melepas Jenazah di Gereja katolik Stela Maris.(rey) 
TELEGRAF- Setelah semalam disemayamkan di Gereja Katolik Stella Maris Bitung, jenazah Pastor Yori Yakobus Sandehang, Pr akhirnya dibawah untuk disemayamkan di Gereja Katedral Manado pada pukul 09.00 Wita, pagi ini.

Jenazah dilepas secara langsung oleh Wakil Wali Kota Bitung Ir. Maurits Mantiri, yang turut disaksikan Wakil Bupati Kepulauan Talaud Petrus Simon Tuange, Sekda Kota Bitung Malton Andalangi serta sejumlah pejabat dan pegawai setempat. Prosesi Pelepasan Jenazah pastor Yori diliputi dengan isak dan tangis dari para pelayat yang hadir pada acara tersebut.

Dalam kata-kata pelepasannya, Maurits Mantiri mengungkapkan, Pastor Yori telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi pembangunan di Kota Bitung. Pastor Yori, katanya, telah mengambil bagian dalam tanggung jawab yang besar dalam memberikan pembinaan karakter dan spiritual, terutama dalam pelayanannya bagi para migran dan pelaut.

"Ini (pendampingan bagi migran dan pelaut) menjadi tugas dan tanggung jawab bagi kita dan Pastor Yori sudah mengambil bagian dalam tanggung jawab itu."

"Wali Kota Bitung dan seluruh masyarakat menyampaikan turut berduka cita. Segala sesuatu yang telah ditinggalkan adalah sesuatu yang terbaik yang sudah diberikan kepada Kota Bitung," ujar Maurits.

Almarhum terlahir sebagai anak ketiga dari lima bersuadara dalam keluarga Sandehang-Tukunan. Ia ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Manado Mgr. Suwatan pada 2012 silam. Setelah ditahbiskan, ia ditugaskan di Paroki Stella Maris Bitung selama 7 bulan. Selain sebagai pastor pembantu, selama di Bitung, ia juga ditugaskan sebagai imam pendamping para pelaut dalam Komisi Migran Perantau dan Pelaut, membantu Pastor Benny Salettia, Pr.

Selanjutnya, ia ditugaskan sebagai Kepala Paroki St. Theresia Tentena, Poso, Sulawesi Tengah. Di sana, disamping memberi layanan sakramen dan tugas-tugas gereja lainnya, ia juga aktif membangun ekonomi umat melalui usaha peternakan ayam petelur.

Namun, sekira bulan September lalu,
ia tidak lagi bisa menjalani tugas pelayanannya, akibat jatuh sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Budi Mulia Bitung, Sulawesi Utara, sekira pukul 07.00 Wita, Minggu (16/10) 2016. Setelah menjalani perawatan dan pengobatan di rumah sakit tersebut sekira 72 jam.

Oleh umat Stella Maris Bitung, Almarhum dikenal sebagai sosok yang ramah, tanggung jawab dan kreatif.

Drs Yohanis Pantau, mewakili umat Paroki Stella Maris Bitung mengatakan, umat sangat kehilangan dengan kepergian Almarhum, namun mereka yakin Tuhan punya rencana yang indah atas peristiwa ini.

"Saya menyampaikan terima kasih kepada keluarga yang menerima kenyataan ini. Saya bangga, akan imam ini. Saya percaya, akan lahir Yori-Yori kecil yang akan melanjutkan karya pelayanannya," ujarnya.

Sebelumnya, hal senada juga diungkapkan Wakil Bupati Kepulauan Talaud Petrus Simon Tuange.

"Umat sangat membutuhkan. Tapi mana mungkin Tuhan tidak tahu, kalau umat membutuhkan? Kita harus menerimanya. Yakinlah bahwa Tuhan punya rencana dengan peristiwa yang indah dengan peristiwa ini," ujarnya kepada di sela-sela kesibukannya bersama keluarga mengurus jenasah, kemarin. (reynaldus atapunang)

Axact

Axact

Lugas dan Inspiratif

Post A Comment: