Saat mengajar di dalam kelas.(arham/Telegrafnews.co)

TELEGRAF-  Pahlawan tanpa tanda jasa, sebutan yang dialamatkan kepada guru. Dan sepantasnya jika kesejahteraan guru lebih diperhatikan, agar mereka memiliki komitmen penuh untuk mendidik generasi penerus bangsa.

Robert Rawung (49) seorang guru yang mengajar di SMP Negeri 6 Kota Bitung. Setiap selesai mengajar, dirinya mencari penghasilan tambahan sebagai sopir mikrolet.

Sebelum mengais rezeki tambahan sebagai sopir, Robert juga pernah menjadi tukang ojek.

Ditanyakan mengapa hal ini dilakukan, dengan tersenyum Robert mengatakan, saat ini ketiga anaknya sedang dalam studi di perguruan tinggi sehingga membutuhkan biaya yang cukup besar.

Belum lagi dengan kebutuhan sehari-hari dalam keluarga mulai sandang, pangan dan papan.
“Untuk menambah uang belanja di rumah. Jika hanya menunggu gaji, bias-bisa habis gajian habis hanya buat bayar hutang, “ ujarnya setelah mengajar, Rabu (19/10) 2016.

Guru Olahraga ini, adalah seorang ASN yang diangkat sejak ahun 1994 dan memulai karirnya sebagai ‘Umar Bakri’ di SDN Inpres 6/84 Madidir, Kota Bitung.

Sejak 1998 hingga 2014 sempat menjadi tukang ojek, setelah melaksanakan tugas Negara mencerdaskan anak bangsa.

Pria kelahiran Desa Kombi, Tondano Pantai, Kabupaten Minahasa ini, memiliki gaji awal Rp130 ribu per bulan yang menyebabkannya dirinya harus menekuni 16 tahun selaku tukang ojek dan mangkal bersama teman seprofesinya di sejumlah lokasi yang tersebar di Kota Bitung.

"Walaupun lelah dan sulit untuk membagi waktu, namun demi tetap menyekolahkan anak saya harus tetap keluar rumah sepulang sekolah untuk cari penumpang," jelasnya saat bernostalgia kembali kemasa masa awal berjuang di Kota Bitung selaku ASN. (arham licin)
Axact

Axact

Lugas dan Inspiratif

Post A Comment: